Big Data dan Big Data Analytics

Mengelola Big Data dengan analytics dan menjembatani kesenjangan kemampuan Hadoop

SAS selaku pemimpin dalam layanan dan bisnis perangkat lunak business analytics, berpartisipasi dalam acara Big Data Week 2015 yang digelar di hotel Ritz Carlton, Jakarta dari 9-10 Maret 2015. Gelaran konferensi dengan tema “Big Data, Big Ideas: Building Competitive edge through data driven strategies.” Melalui partisipasi dalam acara ini, SAS menunjukkan kemampuannya dalam bidang analytics sebagai pemimpin kuadran dalam penghargaan Gartner 2015 Magic Quadrant for Business Intelligence and Analytics Platforms[1]. SAS menempati posisi pemimpin kuadran, dikarenakan keunggulan dalam penyelesaian visi axis yang jauh lebih baik.

Dalam konferensi ini, SAS akan meningkatkan pemahaman para peserta mengenai bagaimana big data analytics dapat meningkatkan keunggulan kompetitif dengan cara mengikutsertakan data analitycs sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan.

Pada tahun 2012, jumlah informasi yang dibuat dan direplikasi telah melampaui 2,8 zettabytes (2,8 triliun gigabyte), tumbuh hingga 9 kali lipat hanya dalam 5 tahun. Dan pada tahun 2020, jumlah data yang disimpan diperkirakan 50 kali lebih besar jika dibandingkan pada tahun 2012.

Data berasal dari mana saja; dari sistem operasional hingga transaksional, dari sistem pemindaian hingga manajemen fasilitas, dari titik kontak pelanggan inbound dan outbound, dari media mobile dan web. Ledakan data ini bukanlah hal yang baru. Tren ini telah dimulai pada tahun 1970-an, perbedaannya adalah pada kecepatan pertumbuhan, keragaman data dan pemanfaatan pada informasi guna kebutuhan transformasi bisnis. Harapan atas big data adalah bahwa perusahaan dapat menggunakan setiap byte data yang relevan dan menggunakannya untuk membuat keputusan yang terbaik. Teknologi big data tidak hanya didukung oleh kemampuan untuk mengumpulkan dalam jumlah besar, tetapi yang lebih penting untuk memahami dan memanfaatkan dengan maksimal atas big data.

"Teknologi dan praktik terbaik baru atas big data saat ini menjadi semakin menarik, bahkan cukup mempesona, dan dapat dikatakan ‘macho’ untuk bekerja dengan puluhan terabyte. Hanya saja jangan melakukannya untuk teknologi tapi manfaatkanlah big data dan lakukan analytics untuk mendapatkan wawasan yang baru untuk kepentingan bisnis. Potensi big data masih terbuka lebar, di SAS, kami optimis tentang potensi yang lebih lagi atas big data dengan big data analytics.” Ujar Peter Sugiapranata, Sales Director SAS Indonesia.

Dengan big data analytics, para ilmuwan data dan yang lainnya dapat menganalisis data dalam jumlah yang besar di mana solusi konvensional analytics dan business intelligence (BI) tidak dapat melakukannya. Pertimbangannya adalah; big data analytics memungkinkan perusahaan dapat mengakumulasi miliaran baris data dengan ratusan juta data sebagai kombinasi dari banyak tempat penyimpanan data dan juga dalam format yang beragam. High-performance analytics diperlukan untuk dapat memproses data dalam jumlah besar tersebut dalam rangka untuk mencari tahu apa yang penting dan yang tidak.

Melakukan analytics pada big data terlepas dari ukuran atau sektor industri, perusahaan mengumpulkan semua jenis dan jumlah data yang bisa dilakukan dengan SAS Visual Analytics. Perangkat lunak ini menyediakan platform lengkap untuk visualisasi analytics, memungkinkan untuk mengidentifikasi pola-pola dan hubungan dalam data yang awalnya tidak jelas. Interaktif, proses BI yang dapat dilakukan sendiri dan kemampuan pelaporan yang digabungkan dengan advanced analytics yang out-of-the-box sehingga semua orang dapat menemukan wawasan dari berbagai ukuran dan jenis data, termasuk teks.

Pentingnya big data juga terkait dengan Hadoop sebagai sistem solusi menyimpan data, sedangkan kemampuan untuk mengelola itu adalah hal lain. Fakta di lapangan, terdapat kesenjangan dalam kemampuan yang dibutuhkan untuk mengelolanya, karena Hadoop sering membutuhkan keterampilan coding khusus. SAS Data Loader for Hadoop menjembatani kesenjangan kemampuan tersebut, memberikan pengguna akses mudah pada data mereka tanpa dibutuhkan kemampuan teknis. Demikian juga, para TI dapat lebih fokus pada manfaat yang lebih teknis dari teknologi tersebut, seperti meningkatkan kinerja pengolahan dan meningkatkan keamanan data.

Tentang Big Data Week

"Penyedia layanan data dan informasi, Mediatrac menyelenggarakan Big Data Week 2015 dengan tujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam atas konsep Big Data di Indonesia. Acara ini akan berlangsung dari tanggal 7- 10 Maret 2015, yang didahului dengan penyelenggaraan kontes "The First National Hardware Hackaton" pada 07-08 Maret dan diikuti dengan konferensi Big Data. Konferensi ini akan mempertemukan lebih dari 25 pakar dan praktisi Internasional maupun dari Indonesia, serta menghadirkan Profesor Thomas Davenport dari Babson College, yang juga dosen di Harvard University dan Massachusetts Institute of Technology dan penulis sejumlah buku tentang Big Data Analytics sebagai pembicara utama."

Tentang SAS

SAS merupakan pemimpin software dan layanan business analytics, dan vendor independen terbesar dalam pasar Business Intelligence. Melalui solusi inovatif, SAS membantu pelanggan di lebih dari 75.000 tempat untuk meningkatkan performa kinerja perusahaan dan membantu proses pembuatan keputusan menjadi lebih cepat dan tepat. Sejak 1976 SAS telah memberikan kepada pelanggan di seluruh dunia kemampuan THE POWER TO KNOW®.

[1] Gartner, Magic Quadrant for Business Intelligence and Analytics Platforms, Rita L. Sallam, Bill Hostmann, Kurt Schlegel, Joao Tapadinhas, Josh Parenteau, Thomas W. Oestreich February 23, 2015.

Info lebih lanjut hubungi:

Back to Top